Populasi-sampel-penelitian
Metodologi

Populasi dan Sampel Penelitian

Di dalam penelitian kuantitatif, pemilihan populasi dan sampel penelitian merupakan hal yang penting dan krusial, sebab populasi dan sampel akan sangat terkait dengan sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian.

Mengingat saking pentingnya populasi dan sampel dalam sebuah penelitian, maka seorang mahasiswa atau bahkan peneliti kuantitatif perlu memahami konsep dasar, pengertian populasi dan sampel, jenis-jenis, serta cara atau rumus dalam penarikan sampelnya.

Terkait dengaan hal tersebut, pada postingan kali ini, saya akan membahas kesemua itu untuk kalian, yeah!

Simak baik-baik, Guys! karena ini pengetahuan penting yang sangat harus kalian pahami.

Pengertian Populasi

Menurut Sugiyono (2001), Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/ subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Menurut Margono (2004), populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya.

Menurut Kerlinger (Furchan, 2004) menyatakan bahwa populasi merupakan semua anggota kelompok orang, kejadian, atau objek yang telah dirumuskan secara jelas.

Menurut Nazir (2005) menyatakan bahwa populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan

Jenis-jenis Populasi

Beberapa ahli mengklasifikasikan populasi dalam beberapa jenis, yakni

  • Populasi terhingga
  • Populasi tak  terhingga
  • Populasi teoretis
  • Populasi tersedia
  • Populasi homogen
  • Populasi heterogen

Populasi Terhingga

Populasi terhingga merupakan populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memilki karakteristik yang terbatas. Misalnya 5.000.000 orang guru SMA pada awal tahun 1985, dengan karakteristik; masa kerja 2 tahun, lulusan program Strata 1, dan lain-lain.

Populai Tak terhingga

Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif. Misalnya guru di Indonesia, yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak guru pertama ada sampai sekarang dan yang akan datang.

Dalam keadaan seperti itu jumlahnya tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan suatu jumlah objek secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-orang, dahulu, sekarang dan yang akan menjadi guru. populasi seperti ini disebut juga parameter.

Populasi Teoretis

Populasi teoretis (teoritical population), yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya ditetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang lebih luas, maka ditetapkan terdiri dari guru; berumus 25 tahun sampai dengan 40 tahun, program S1, jalur skripsi, dan lain-lain.

Populasi Tersedia

Populasi yang tersedia (accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota Bandung terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah ditetapkan dalam populasi teoretis.

Populasi Homogen

Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan sebotol darah, hasilnya akan sama saja.

Populasi Heterogen

Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsur- unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Penelitian di bidang sosial yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia menghadapi populasi yang heterogen.

Pengertian Sampel

Secara harfiah sampel merupakan sebagian kecil yang mewakili jumlah atau pun karakteristik dalam populasi yang akan diselidiki oleh peneliti, hal ini diperkuat oleh pendapat dari Cohen et al., (2018) yang menyatakan “…a smaller group or subset of the total population in such a way that the knowledge gained is representative of the total  population  (however  defined)  under study. This smaller group or subset is the sample”

Selain definisi dari Cohen et al., (2018) tersebut, beberapa pahli Indonesia juga mengemukakan definisi sampel dalam perspektif mereka masing-masing. Misalnya, Arikunto (2002) yang menyatakan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Kemudian Sugiyono (2001) yang menyatakan  bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Ada beberapa alasan mengapa peneliti melakukan penarikan sampel dari populasi, dua penyebab yang paling umum, meliputi:

  • Peneliti bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja.
  • Penelitian bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil-hasil kepenelitiannya, dalam arti mengenakan kesimpulan-kesimpulan kepada objek, gejala, atau kejadian yang lebih luas.

Sampel yang Representatif

pengambilan sampel ini, tentu tidak bisa dilakukan sembarangan, sebab terdapat salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam menentukan sampel dari sebuah populasi, yakni sifat representatif (Putu Agung, 2012). Hal serupa juga dikemukakan oleh Vockell & Asher, (1995) yang menyatakan the sample must be representative of the population about which we wish to make generalizations”..

Representatif di sini merujuk pada seberapa dekat atau seberapa mirip karakteristik dalam sampel dengan karakteristik di dalam populasi yang diwakilinya, di dalam hal ini semakin referesentatif sebuah sampel, maka akan berimplikasi pada validitas eksternal suatu penelitian yang dilakukan.

Sampel yang representatif dalam sebuah penelitian sangat penting, sebab hal tersebut terkait dengan tingkat akurasi generalisasi hasil penelitian dari sampel terhadap populasi. Semakin representatif sampel yang dipakai, maka akan semakin akurat pula generalisasinya terhadap populasi penelitian.

Sebaliknya, jika sampel yang digunakan tidak representatif, maka berapa pun ukuran sampel yang digunakan, tetap tidak dapat digeneralisasi untuk menjelaskan sifat populasi di mana sampel itu diambil

Tahap Penarikan Sampel

  • Menentukan Populasi
  • Merumuskan kerangka sampel
  • Memilih teknik sampling yang akan digunakan
  • Menentukan ukuran sampel

Teknik Sampling

Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif (Margono, 2004).

Secara umum teknik sampling dalam penelitian kuantitatif terbagi menjadi dua jenis, yakni Porbability sampling dan non-probability sampling.

Probability Sampling

Sampel Probabilitas (probability sampling) atau disebut juga sebagai random sampling merupakan prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa setiap orang dalam populasi memiliki peluang yang sama besar untuk dipilih menjadi bagian sampel.

Probability Sampling terdiri dari beberapa jenis, yakni:

  • Simple random sampling
  • Stratified random sampling
  • Cluster sampling

Simple random sampling

Simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling, oleh sebab itu setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi.

Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar. Misalnya, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 (unit tampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random.

Stratified random sampling

Pada dasarnya teknik Stratified random sampling merupakan pengembangan dari simple random sampling (Leary, 2012). Teknik ini dapat didefinisikan sebagai teknik yang membagi populasi ke dalam sub-kelompok berdasarkan strata tertentu, selanjutnya dilakukan prosedur sebagaimana dalam simple random sampling untuk setiap sub-kelompok yang telah dibuat.

Secara prinsip, teknik stratified random sampling ini mencoba menarik sampel berdasarkan sub-kelompok populasi yang homogen, bukan berasal dari total populasi yang heterogen (Morissan, 2017),

oleh karena itu biasanya teknik ini diaplikasikan kepada kelompok populasi yang heterogen, sehingga penerapan teknik ini akan terlebih dahulu pengelompokan populasi pada sub-kelompok berdasarkan stratifikasi tertentu supaya tercipta sub-kelompok yang homogen sebelum dilakukan prosedur random sampling.

Stratified random sampling terdiri dari duajenis, yaitu:

  • Proportionate Stratified Random Sampling
  • Disproportionate Stratified Random Sampling

Mau tahu penjelsan lebih detail mengenai stratified random sampling? Nanti beli dan baca buku saya aja yah. Judulnya Metodologi Penelitian Kuantitatif. Terbit tahun ini. sssssssttttt jangan bilang-bilang yak, sekarang buku saya itu lagi naik cetak. Uhuy.. wkwkwk

Cluster sampling

Cluster sampling merupakan atau disebut juga sampling area merupakan teknik yang digunakan apabila populasi penelitian tergabung dalam beberapa kelompok atau cluster (Margono, 2005). Di sisi lain, cluster yang digunakan dalam teknik ini dapat berupa kelompok wilayah yang sangat luas, kelompok pekerjaan, organisasi, dan berdasarkan kelompok lainnya.

Pada dasarnya cluster sampling terdiri dari beberapa jenis tergantung dari tahapan pembatan klasternya, namun secara umum ada tiga jenis cluster sampling, yaitu:

  • Single-stage cluster sampling
  • Two-stage cluster sampling
  • Multistage cluster sampling

Mau tau lebih lanjut? Pesan buku saya gih, wkwkwk

Non-Probability Sampling

Non-probability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/ kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel, sehingga dalam non-probability sampling pemilihan sampel didasarkan pada penilaian peneliti itu sendiri.

Secara umum non-probability sampling terbagi ke dalam beberapa tipe, yaitu:

  • convenience sampling
  • purposive sampling
  • quota sampling
  • snowball sampling, dan
  • sampel jenuh.

Convenience sampling

Convenience sampling disebut juga sebagai accidental, haphazard atau captive sample, merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan karena faktor kemudahan saja, oleh karena itu dalam teknik convenience sampling biasanya peneliti tidak memiliki pertimbangan lain kecuali hanya karena alasan kemudahan akses terhadap sampel yang ada.

Purposive sampling

Purposive (judgement sampling) merupakan teknik sampling yang dilakukan atas dasar tujuan dan pertimbangan tertentu, oleh karena itu dalam proses pengambilan sampelnya didasarkan pada kriteria atau maksud yang telah ditentukan sebelumnya.

Quota sampling

Quota sampling merupakan teknik untuk menetapkan sampel dar populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diharapkan. Sebenarnya teknik hampir mirip dengan purposive sampling yang sama-sama mempertimbangkan kriteria yang akan dijadikan anggota sampel.

Snowball sampling, dan

Teknik bola salju (snowball) merupakan teknik penarikan sampel dengan cara meminta responden pertama menunjukkan responden kedua, ketiga, dan seterusnya secara berantai hingga jumlahnya semakin bertambah besar

Sampel jenuh.

Sampel jenuh merupakan teknik penentuan sampel yang menggunakan seluruh anggota populasi sebagai sampel

Cara Menentukan Ukuran Sampel

Hal yang tak kalah penting dalam populasi dan sampel sehingga pembahasannya tidak boleh dilwatkan adalah cara penarikan ukuran sampel, dengan memahami cara menentukan ukuran sampel, maka peneliti dapat menarik sampel yang dibutuhkan dengan tepat dan akurat.

Secara umum, cara menentukan ukuran sampel terbagi menjadi dua, yaitu berdasarkan rule of thumb dan berdasarkan perhitungan statistik.

Berdasarkan Rule of Thumb

Rule of thumb atau disebut juga arbitrary approach merupakan metode penentuan ukuran sampel dengan merujuk pada aturan praktis berdasarkan pendapat praktis dari para ahli. Terkait dengan hal ini, ada beberapa rule of thumb atau aturan praktis yang dikemukakan para ahli dan masih populer digunakan.

Pendapat praktis dari Roscoe (1975), sebagai berikut.

  • Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian.
  • Jika sampel dipecah ke dalam sub-sampel, maka ukuran yang tepat adalah minimalnya 30 untuk tiap kategori.
  • Di dalam penelitian multivariat, ukuran sampel haru beberapa ali lebih besar dari jumlah variabel. Di sini Roscoe menyarankan minimal 10 kali lebih besar dari jumlah variabel yang ada.
  • Pada penelitian eksperimen sederhana dengan pengontrolan yang ketat, dapat menggunakan ukuran sampel 10 hingga 20.

Berdasarkan perhitungan statistik

Di dalam proses mengukur sampel melalui analisis statistika maka peneliti harus menggunakan formula atau rumus statistik yang beragam dan banyak tersedia dalam buku-buku metodologi penelitian, atau mungkin saat ini dapat menggunakan bantuan software yang sudah mulai banyak dikembangkan.

Di dalam penarikan sampel dengan menggunakan perhitungan statistik, ada beberapa rumus yang lazim digunakan, salah satu yang paling populer adalah rumus Slovin. Kendati demikian, artikel ini tidak akan membahas formula Slovin secara lebi mendalam mengingat beberapa buku telah menyebutkan bahwa rumus Slovin merupakan rumus yang kontroversial.

Prof. Maman A. Djauhari (2020) menyebutkan bahwa rumus Slovin merupakan rumus yang cacat karena terlalu banyak penyederhanaan. [untuk lebih jelas, silakan baca buku Prof. Maman atau buku saya] hehe

Selain itu, publikasi original yang membahas rumus Slovin pun relatif sulit ditemukan sehingga kredibilitasnya sedikit diragukan.

Jika Rumus Slovin dianggap cacat, lantas rumus apa yang dapat dgiunakan?

Terkait dengan rumus penarikan sampel dengan perhitungan statistik, di sini saya lebih merekomendasikan rumus yang diciptakan oleh National Education Association (NEA) pada tahun 1960 yang kemudian dipopulerkan oleh Krejcie & Morgan pada 1970. Berikut bentuk rumusnya.

Rumus-NEA-ometlit

Any Question? udah ngertilah ya. Saya kira pembahasan ini udah cukup lumayan. Udah lumayan ngantuk juga saya, nih. wkwk

Jika ada pertanyaan terkait populasi  dan sampel silakan sampaikan di kolom komentar atau boleh langsung hubungi kami ya.

 

 

 

 

 

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *