kedudukan teori dalam penelitian
Metodologi

Pengertian Teori dan Kedudukannya dalam Penelitian

Perlu diketahui bahwa selain konsep dan proposisi, teori juga merupakan bagian dari proses teoretisasi, oleh karena itu jika pada artikel sebelumnya saya telah membahas konsep dan proposisi dalam penelitian, maka dalam artikel ini saya akan membahas teori, pengertian teori, jenis, serta kedudukannya dalam penelitian ilmiah.

Teori merupakan komponen dasar dalam penelitian dan sebagai salah satu tanda atau bukti dari sebuah penelitian yang bersifat ilmiah. Sebuah teori dalam penelitian (terutama penelitian kuantitatif) memegang kedudukan yang amat vital, hal ini karena pada hakikatnya penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menerapkan pola berpikir dari aspek umum ke aspek khusus (deduktif).

Pengertian Teori

Secara umum, teori merupakan kumpulan atau seperangkat konsep, pengertian atau penjelasan yang disusun secara sisitematis, sehingga dari teori ini bisa digunakan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan suatu fenomena atau kejadian tertentu.

Pengertian Teori Menurut Corbitta (2003)

Menurut Piergiorgio Corbitta, definisi teori terdiri dari beberapa hal, sebagai berikut.

  • Satu set proposisi yang terhubung secara organik.
  • Memiliki tingkat abstraksi dan generalisasi yang lebih tinggi dari kenyataan empiris.
  • Berasal dari pola empiris.
  • Bersifat prediktif dan dapat diuji.

Pengertian Teori Menurut Kerlinger (2006)

A theory is a set on interrelated construct (concept), definitions and proposition that present a systematic view of phenomena by specify relations among variable, with the purposes of explaining and predicting the phenomena.

Jadi jika saya terjemahkan secara sembarangan, menurut pada pemaparan Kerlinger tersebut maka terjemahannya kurang lebih begini:

serangkaian asumsi, konsep, konstruksi, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antara konsep dan kerangka teori yang disusun sebagai landasan berpikir untuk menunjukkan perspektif yang digunakan dalam memandang fenomena sosial yang menjadi objek penelitian.

Pengertian Teori Menurut Ary, dkk (2009)

Teori merupakan sebuah seperangkat konstruk, konsep dan proposisi yang saling terkait yang menyajikan penjelasan fenomena dan membuat prediksi tentang hubungan antar variabel yang relevan dengan fenomena tersebut.

Pengertian Teori Menurut Cohen, dkk (2000)

Theory gathers together all the isolated bits of empirical data into a coherent conceptual framework of wider applicabillity.

Pengertian Teori Menurut Suharsaputra (2004)

Biasanya sebuah teori terdiri dari sekumpulan konsep yang lazimnya diikuti oleh proposisi antar konsep sehingga tergambar suatu hubungan yang logis dalam suatu kerangka berpikir.

Pengertian Teori Menurut Kenneth D. Bailey (1994)

Teori merupakan suatu upaya untuk menjelaskan gejala-gejala tertentu serta harus dapat diuji, suatu pernyataan yang tidak dapat menjelaskan dan memprediksi sesuatu bukanlah teori. Lebih jauh Kenneth D. Bailey menyebutkan bahwa komponen-komponen dasar dari teori adalah Konsep (Concept)   dan variabel (Variable).

Pengertian Teori Menurut James H. McMillan (2016)

A theory can be defined as a set of propositions that explain the relationships among observed phenomena. Such general explanations of behavior can be used in many contexts and have more utility for a large number of people.

Merujuk pada pengertian teori dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa Teori terdiri dari sekumpulan konsep yang umumnya diikuti oleh relasi antar konsep sehingga tergambar hubungannya secara logis dalam suatu kerangka berpikir tertentu.

Adapun pernyataan yang menggambarkan hubungan antar konsep disebut proposisi, dengan demikian konsep merupakan himpunan yang membentuk proposisi, sedangkan proposisi merupakan himpunan yang membentuk teori.

Jadi apakah kawan-kawan sudah paham mengenai hubungan dari konsep, proposisi, dan teori sebagai bagian dari proses teoretisasi? Coba baca lagi artikel saya sebelumnya: Pengertian Konsep dan Proposisi

Syarat Teori

McMillan & Schumacher di dalam bukunya yang berjudul Research in Education: A Conceptual Introduction menyatakan bahwa sebuah teori harus memiliki empat syarat.

  1. Teori harus memberikan penjelasan sederhana tentang hubungan yang dapat diamati dan relevan dengan masalah khusus.
  2. Teori harus konsisten dengan hubungan-hubungan yang teramati dan pengetahuan yang telah mapan.
  3. Teori masih dianggap sebagai penjelasan sementara dan harus memberikan cara dan peluang untuk pengujian dan revisi.
  4. Teori harus memberikan stimulasi untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang yang diperlukan.

Kriteria Teori

  1. Sebuah teori harus dapat menjelaskan fakta-fakta yang dapat diamati berkaitan dengan masalah tertentu. Di dalam hal ini, sebuah teori harus dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Namun harus diingat, penjelasan mengenai sebuah peristiwa harus diusahakan dalam bentuk yang sederhana, hal ini agar sesuai dengan prinsip Parsimoni sebagaimana dikemukakan oleh Ary, dkk (2010).
  2. Sebuah teori harus konsisten dengan fakta yang sedang diamati dengan teori yang sudah ada dalam body of knowledge.
  3.  Sebuah teori harus dapat diklarifikasi oleh ilmuwan lainnya. Hal ini terkait dengan prinsip ilmu pengetahuan, yakni verificability of claim.
  4. Sebuah teori harus mampu memicu penemuan baru dan menunjukkan area baru untuk diselidiki secara ilmiah.

Fungsi Teori

Fungsi eksplanatif (menjelaskan)

Maksudnya bahwa sebuah teori haruslah mampu menjelaskan hubungan antara peristiwa lain yang terdapat dalam pengalaman empiris. Jadi secara sederhana, eksplanasi ini merupakan pernyataan tentang hubungan tertentu untuk menggambarkan sejumlah fenomena yang dapat diamati.

Di sisi lain, kemampuan eksplanatif suatu teori ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu: 1) kesederhaan strukturnya, 2) kecermatan penjelasan, 3) relevansinya terhadap fenomena sosial.

Fungsi Prediktif

Jika suatu teori dapat menjelaskan hubungan antara suatu variabel dengan variabel lainnya, maka secara otomatis teori tersebut akan dapat membuat perkiraan terhadap hubungan dua variabel tersebut.

Perlu diingat bahwa eksplanasi bersifat positif, adapun prediksi bersifat probabilitas, misalnya gini: jika langit mendung dengan awan hitam yang menutupinya maka akan turun hujan.

Dari contoh tersebut, langit adalah fakta yang dapat diukur, tetapi turun atau tidaknya hujan itu bersifat kemungkinan yang belum terjadi.

Prediksi dengan sifatnya yang probabilitas tersebut dapat diterapkan dalam tiga situasi, yakni: masa depan, masa sekarang, dan masa lampau.

Fungsi Kontrol

Teori tidak hanya menjelaskan dan memperkirakan, tetapi juga mampu mengendalikan peristiwa-peristiwa supaya tidak mengarah pada hal-hal yang negatif.

Jenis-jenis Teori

Terkait dengan jenis teori dan tingkatannya, ada beragam pendapat dari para ahli. Diantaranya klasifikasi dari Goetz dan LeCompte yang membagi teori ke dalam empat jenis tingkatan, Klasifikasi dari Tedja Mudyahardjo yang membaginya ke dalam tiga jenis tingkatan,

Di sisi lain ada juga klasifikasi dari Robert K. Merton di dalam bukunya Social Theory and Social Structure yang membagi teori ke dalam tiga jenis tingkatan. Selanjutnya, pada masa-masa berikutnya Walker & Avant (1995) memasukkan satu tingkatan teori bernama Metha-theory ke dalam jenis teori yang sebelumnya dibuat oleh Robert K. Merton.

Jenis dan Tingkatan Teori Menurut Goetz dan LeCompte

Grand Theory

Sistem yang secara ketat mengaitkan proposisi-proposisi dan konsep-konsep yang abstrak sehingga dapat digunakan untuk menguraikan, menjelaskan dan memprediksi secara komprehensif sejumlah fenomena secara non-probabilitas.

Theoretical Theory

Keterhubungan yang longgar (tidak ketat) antara sejumlah asumsi, konsep, dan proposisi yang membentuk pandangan ilmuwan tentang dunia.

Formal and middle-range theory

Formal and middle-range theory atau teori formal dan tingkat menengah merupakan proposisi yang berhubungan, yang dikembangkan untuk menjelaskan beberapa kelompok tingkah laku manusia yang abstrak

Substantive theory

Merupakan teori yang paling rendah tingkatan abstraksi dan sangat terbatas dalam keumuman generalisasinya

Jenis dan Tingkatan Teori Menurut Tedja Mudyahardjo

Teori Induk

Merupakan sistem pernyataan yang saling berhubungan erat dan konsep-konsep abstrak yang menggambarkan, memprediksi atau menerangkan secara komprehensif hal-hal yang luas tentang gejala-gejala yang tidak dapat diukur tingkat kemungkinannnya (misalnya teori belajar).

Teori dapat dikembangkan/ dijabarkan ke dalam model-model teoritis yang menggambarkan seperangkan asumsi, konsep atau pernyataan yang saling berkaitan erat yang membentuk sebuah pandangan tentang kehidupan (suatu masalah).

Teori formal dan tingkat menengah

Merupakan pernyataan-pernyataan  yang saling berhubungan, yang dirancang untuk menerangkan suatu kelompok tingkah laku secara singkat. Misalnya teori Konstruktivisme menurut Jean Piaget)

Teori Substantif

Teori substantif merupakan pernyataan-pernyataan atau konsep-konsep yang saling berhubungan, yang berkaitan dengan aspek-aspek khusus tentang suatu kegiatan.

Jenis dan Tingkatan Teori Menurut Robert K. Merton

Metha-theory *

merujuk pada filosofi dari sebuah teori; mengacu pada pertanyaan filosofis dan metodologis yang terkait dengan pengembangan landasan teori.

*CATATAN: Metha-theory merupakan penambahan yang diberikan oleh Walker & Avant terhadap klasifikasi dan tingkatan teori yang sebelumnya dikemukakan oleh Robert K. Merton.

Grand Theory

Sebuah teori yang kompleks serta memiliki cakupan luas. Biasanya Grand theory terdiri dari beberapa atau bahkan banyak teori untuk menjelaskan bidang yang luas dalan suatu disiplin ilmu. Sebuah grand theory memiliki karakteristik yang membedakannya dengan level teori lain, meliputi:

  • Cakupannya luas sebab biasanya memperhatikan seluruh aspek,
  • Tingkat abstraksinya cukup tinggi sehingga tidak dapat langsung disusun ke dalam definisi operasional.
  • Belum spesifik pada aspek tertentu.

Menurut Robert K. Merton, Grand Theory dapat memberikan panduan kepada peneliti untuk mengumpulkan data empiris. Di sisi lain, lazimnya sebuah grand theory menjadi dasar peneliti kuantitatif dalam melakukan sebuah penelitian.

Middle-range Theory

Teori yang levelnya berada di bawah grand theory. Apabila grand theory membahas banyak aspek secara komprehensif, maka middle range theory lebih membahas aspek-aspek tertetu yang lebih spesifik sehingga cenderung lebih mudah dipalikasikan dalam penelitian.

Umumnya Middle range theory terdiri dari konsep yang relatif konkret yang dapat didefinisikan secara operasional dan dapat diuji secara empiris. Middle range theory dapat berupa deskripsi fenomena tertentu, penjelasan hubungan antar fenomena, serta prediksi mengenai efek dari satu fenomena atau lainnya.

Practice Theory

teori yang tingkatan abstrakasinya paling rendah, memiliki sedikit konsep, mudah untuk didefinisikan, ruang lingkupnya sempit, dan bersifat sangat spesifik karena berkaitan dengan aspek-aspek khusus tentang suatu kegiatan.

Kedudukan Teori  dalam Pendekatan Kuantitatif

Posisi teori dalam penelitian kuantitatif adalah menjadi faktor yang sangat penting dalam proses penelitian itu sendiri, teori digunakan untuk menuntun peneliti menemukan masalah, menemukan hipotesis penelitian, menemukan konsep-konsep, menemukan metodologi atau bahkan menemukan alat analisis data.

Selain itu, teori juga digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel, meyederhanakan kompleksitas gejala degan mereduksi ke dalam ukuran yang dapat ditangani dan diukur.

Dalam penelitian kuantitatif, teori dikembangkan sebagai usaha mencari jawaban pertanyaan penelitian. Usaha pencarian jawaban pertanyaan penelitian dengan mengembangkan teori  akan menghasilkan dua hal. Pertama, teori memberikan pemahaman terhadap variabel-variabel yang dirumuskan dalam pertanyaan penelitian.

Kedua, pengembangan teori diperlukan untuk memperoleh panduan dalam pengujian dengan mengajukan hipotesa yang kebenarannya tenatif dan berlaku pada tingkat teoritis.

Jadi pada intinya, dalam sebuah penelitian kuantitatif, teori dikembangkan sebagai usaha mencari jawaban pertanyaan penelitian, hal ini karena teori akan memandu peneliti mengenai variabel, pengumpulan data, dan perumusan hipotesis atas pertanyaan penelitian yang merupakan hubungan variabel.

Biar lengkap baca juga pembahasan mengenai Variabel Penelitian, sebab pembahasan itu penting dan ada keterkaitannya dengan pembahasan sekarang, Guys!

Teori sebagai Tool of Science

Menurut Moh. Nazir, sebuah teori sebagai Tool of science, terdiri dari beberapa hal, sebagai berikut.

  1. Teori mendefinisikan orientasi utama ilmu dengan cara memberikan definisi terhadap jenis-jenis data yang akan dibuat abstraksinya.
  2. Teori memberikan rencana konseptual, dengan rencana manafenomena-fenomena yang relevan disistematiskan, diklasifikasikan dan dihubung-hubungkan.
  3. Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan sistem generalisasi.
  4. Teori memberikan prediksi terhadap fakta.
  5. Teori memperjelas celah-celah dalam pengetahuan.

Demikianlah pembahasan mengenai pengertian teori, jenis-jenis, dan kedudukannya dalam penelitian, hehehe…

dengan selesainya pembahasan mengenai teori, artinya pembahasan mengenai proses teoretisasi dalam penelitian juga telah usai ya. Hal ini menandakan bahwa dalam beberapa artikel ke depan saya tinggal membahas mengenai proses empirisasi dalam penelitian.

Semangat, kawan-kawan..

Bahan Bacaan
Ary, dkk. (2010). Introduction to Research in Education.
Bailey, K., D. (1994). Methods of Social Research.
Bryman, A. (2012). Social Research Methods.
Cohen, dkk. (2000). Research Methods in Education.
Corbetta, P. (2003). Sosial Research: Theory, Methods, and Techniques.
Hasan, H. (1996). Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial.
Kerlinger. (2006). Asas-Asas Penelitian Behavior.
McMillan J., & Schumacher. (2014). Research in Education Evidence-Based Inquiry.
McEwen M., & Wills, E., M. (2019). Tehoretical Basis for Nurse.
McMillan J., H. (2016). Fundamental of Educational Research.
Mudyahardjo, R. (2001). Pengantar Pendidikan.
Merton, R., K. (1967). On Theoretical Sociology.
Nazir, M. (2011). Metode Penelitian.
Singarimbun & Effendi. (1987). Metodologi Penelitian Survey.
Suharsaputra, U. (2004). Filsafat Ilmu.
Syahrum & Salim (2012). Metode Penelitian Kuantitatif.
Umar, H. (2004). Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *